![]() |
Fendi Sukatmanto, Pengamat Birokrasi |
PONOROGO (JI) - Setelah merasa sukses dengan menebar kebencian di periode dulu, sepertinya sekarang mau diulang lagi. Baik dengan lagu lama yang diputar kembali maupun dengan memelintir pernyataan dan tindakan-tindakan lawan. Pokoknya masyarakat diajak membenci, tidak diajak berpikir. Diajak marah-marah tidak diajak berbenah. Tapi setelah itu tinggal gledak, colong playu. Ya itulah watak politik kancil. Suka mengumbar janji dan kata-kata manis tapi miskin bukti. Sehingga andalan utamanya ya fitnah, adu domba dan menebar kebencian.
Begitu pun dengan sekarang ini. Misal pernyataan Ipong waktu daftar di PKB. Coba simak baik-baik videonya yang kurang lebihnya berbunyi, "Sing dibutuhke rakyat iki opo to, wong sing dibutuhke dalan, yo gawe dalan pak, ora kok gawe berhala..."
Di situ jelas Ipong tidak menyebut monumen reyog sebagai berhala, tapi diplintir dan ditafsirkan sepihak oleh gerombolan politik modal kebencian tadi. Namanya juga modale gur kebencian, dapat bahan ya langsung tancap gas. Potong video, sebar sana sini, galang aksi, biar kebencian menjalar kemana-mana,"ujarnya.
Secara bebas memang mungkin bisa ditafsirkan seperti itu. Tapi secara kontekstual dan historis jelas salah kaprah. Bertolak belakang. Kenapa? Karena yang menyampaikan itu adalah Ipong yang dulu waktu menjabat bupati programnya tiap tanggal 11 per desa menggelar reyogan. Apa mungkin orang yg sama di satu sisi nguri-uri budaya reyog dengan cara memprogramkan reyogan tiap desa kok di sisi lain menyatakan reyog itu berhala???. Nalar yang sehat lagi waras tentu akan menolak tafsir seperti itu. Tapi beda dengan nalar kebencian dan adu domba, pokoknya ya begitu. Wajar karena memang otaknya masih sangat orisinil, susah diajak berpikir,"jelasnya.
Selain itu, Ipong menyampaikan itu sepertinya bukan atas inisiasi sepenuhnya diri dia sendiri. Tapi itu hasil dia keliling ke beberapa desa maupun dari masyarakat yang ditemuinya akhir-akhir ini. Saat ngobrol-ngobrol dengan masyarakat ditanya; pilih monumen apa jalan, mereka lebih memilih jalan untuk saat ini. Ini bukan berarti juga monumen itu tidak baik, bukan. Tapi lebih pada skala prioritas pembangunan dan kemampuan anggaran daerah Ponorogo. Kalau keuangan mampu, tentu dua-duanya bagus. Tapi kalau kemampuan keuangan masih terbatas, tentu yg prioritas mestinya yg didahulukan. Ini konteksnya pernyataan Ipong saat itu,"ungkapnya.
Dan kalau dihitung-itung anggaran monumen yg sekitar 73 M itu, kalau dibuat jalan dengan lebar 4 meter bisa sepanjang 100 KM. Kebayang gak panjangnya??? Itu bisa dari Ponorogo kota ke arah ndengok, Balong, Slahung terus Mrayan Ngrayun, Bonkandang ke arah Kantor Kecamatan Ngrayun, ke utara arah Bungkal Bancar Ngasinan Jetis Siman, Njeruksing sampai Aloon-aloon, Paham sampai di sini???
Lagian kalau berbicara monumen reyog, sepertinya Bantarangin Somoroto lebih berhak daripada Sampung. Baik secara kesejarahan maupun geografis. Secara geografis kebayang kan ramainya kalau itu di Bantarangin Somoroto??? Ya tentu lebih ramailah. Bukit Soeharto Badegan yang masih sederhana seperti itu saja bisa jadi magnet wisata, apalagi monumen reyog. Knp? Krn terletak di jalan provinsi. Aksesnya lebih mudah dan sudah lumayan bagus. Lalu kenapa kok di Sampung? Tau sendirilah kira-kira faktor dominannya apa,"ucapnya sambil tersenyum.
Dari kasus ini dapat kita ambil beberapa benang merah. 1). Kelompok politik modal kebencian masih menggunakan lagu lama baik dengan lirik lama maupun baru. Yang jelas ujungnya menebar kebencian untuk meraih kekuasaan. Menyerang personal menjadi ciri khasnya. Lihat saja kedepan kita akan disuguhi kembali menu yang sama dengan 5 tahun lalu.
2). Ini makin menegaskan bahwa kelompok politik modal kebencian secara tidak langsung mengakui kegagalannya atas visi misi dan janji-janji politiknya selama ini. Karena mereka lebih menebar kebencian untuk dijadikan kedok dibanding mengkampanyekan kesuksesannya. Mereka tidak Pede dengan kinerjanya sendiri. Makanya lebih memilih cara pintas, murah dan cepat yakni menebar kebencian.
3.Tapi masyarakat Ponorogo sudah cerdas. Tidak mudah diadu domba dan dijadikan ancik-ancik. Seperti Prabowo yang sebelumnya selalu diserang dengan isu penculikan tiap pemilu, tapi terbukti kemarin diwaktu pilpres sudah tidak mempan lagi. Begitu pun dengan Pilkada Ponorogo saat ini. Masyarakat sudah paham. Ternyata yang menggunakan isu-isu personal hanya menjadikan alat untuk mencapai kekuasaan saja. (mji)
*KOPI WARAS* (KOALISI PEMILIH WARAS)
Oleh Fendi Sukatmanto
COMMENTS